Sabtu, 17 Februari 2018

Politik Haji Saudi Menjauhkan Ka'bah dari Ajaran Nabi Muhammad

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bekerja sama dengan Garda Suci Merah Putih dan Haramain Watch menggelar Konferensi Internasional bertajuk “Peran Umat Islam dalam Pengelolaan Pelaksanaan Haji dan Menjaga Situs-situs Sejarah Islam”.

Konferensi ini menghadirkan para pembicara di antaranya Ir. Mujtahid Hashem (Sekjen Garda Suci Merah Putih ),  Ir. Sayuti Ashatry (Intelektual Muslim Mantan Anggota DPRRI ), Syujaat Ali, MEng (Sekjen Muslim Student Organisation (MSO) of India ), Ziyad Abdul Malik (Ketua HMI Cabang Jakarta Selatan) dan Dr. Farizal Marlius (Wakil Rektor Universitas Islam Ibnu Kholdun ).
Dalam pernyataan resminya, Mujtahid Hashem dalam Konferensi Internasional Haji di Unversitas Indonesia, mengatakan, Melarang dan membatasi negara, kelompok masyarakat atau individu untuk melaksanakan Haji adalah melawan perintah Allah SWT.
"Allah Swt  dan Rasul SAW-Nya-lah mengundang secara langsung sebagai dijelaskan di dalam Al-Quran dan sunnahnya. Pelarangan dan pembatasan Haji yang dilakukan oleh Saudi Family terhadap rakyat Yaman, Syiria, Qatar, Iran, Irak, Libya dan Bahrain  bukan untuk kepentingan umat Islam, namun kepentingan politik keluarga Kerajaan Saudi akibat politik agresifnya di kawasan,”  ujar Mujtahid di Jakarta.
Menurut ketua panitia, Ziyad, Konferensi Internasional Haji ini mendapatkan gangguan dari lobi Kedutaan Saudi, karena satu setengah hari sebelum acara UIN membatalkan konferensi yang semestinya diselenggarakan di Sayhida Inn, UIN. Namun integritas intelektual sebagai makhluk akademis dijaga sehingga konferensi internasional haji ini bisa dilaksanakan di Universitas Indonesia.
Shujaat Ali, Presiden Muslim Student Association, India yang menjadi salah satu pembicara menyoroti nasib peninggalan sejarah Islam di Makkah dan Madinah. Mengutip research dari Washington Institute, lebih dari 90% peninggalan sejarah Islam di Saudi Arabia telah dihancurkan oleh kebijakan Kerajaan Saudi.
Peninggalan sejarah yang sangat berharga bagi Umat Islam untuk kepentingan penelitian dan legitimasi sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW mestinya di jaga dan Muslim sedunia harus menaruh perhatian terhadap kebijakan Saudi.
Bagi Mujtahid Hashem, penghancuran peninggalan sejarah Islam oleh Saudi dikarenakan semua peninggalan sejarah Islam ini tidak meligitimasi kekuasaan Saudi, justru menegaskan perilaku moral dan politik Saudi jauh dari ajaran Nabi SAW.
“Bisa dibayangkan ketika Allah perintahkan bara'ah atau melepaskan ikatan dengan kaum musyrikin ( kekuatan kejahatan Zionist Internasional, Israel, Amerika dan Inggris) justru Saudi bermesraan dengan mereka. "Apakah kita bisa bayangkan Rasul Muhammad saw akan bermesraan dengan Zionist Israel, Amerika dan Inggris?," kata Mujtahid Hashem kepada peserta.
Kesimpulan konferensi Haji ini menegaskan quata Haji adalah bagian dari strategi Saudi mengecilkan makna haji dan muslimin Indonesia wajib bicara, muslim Indonesia punya hak yang sama dengan keluarga Saudi untuk mengelola pelaksanaan Haji. Haramain milik semua umat Islam dan umat Islam Indonesia siap menjadi Khadim haramain.
Konferensi juga menegaskan akan menggalang lagi konferensi yang lebih besar sebagai usaha mengembalikan Haji pada makna yang sebenarnya.
Load disqus comments

0 komentar